Sabtu, 11 Februari 2012

Laporan KKL IKIP PGRI Semarang Tahun 2010


LAPORAN
KULIAH INOVASI PEMBELAJARAN
 MATEMATIKA 2 (KIPMATH II)
Bali 6 - 10 April 2010








Disusun Oleh :
1.      Adhy Fran Setyawan             NPM : 08310382
2.      Ahmad Saiful Mujakhi          NPM : 08310384
3.      Anita Wartanti                        NPM : 08310388
4.      Aziz Ulinuha                           NPM : 08310392
5.      Gita Noer Rahmasari             NPM : 08310399
6.      Indah Rizkiana                       NPM : 08310403
7.      Lia Nurul Fuadah                  NPM : 08310406
8.      Maria Ulfa                               NPM : 08310408
9.      Muhammad Muhsin Riza’i    NPM : 08310410
10.  Resti Yulianingsih                   NPM : 08310413
11.  Rusli Yuliandi Rosyidin         NPM : 08310414
12.  Sukma Latifa                          NPM : 08310418
13.  Triyanti                                    NPM : 08310420
14.  Wachidatul Annisa                 NPM : 08310421

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA
DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2010
HALAMAN PENGESAHAN
Kami selaku Pembimbing dari mahasiswa IKIP PGRI Semarang yang telah menyelesaikan laporan Kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) yang disusun oleh :
1.      Adhy Fran Setyawan                                     NPM : 08310382
2.      Ahmad Saiful Mujakhi                                   NPM : 08310384
3.      Anita Wartanti                                                NPM : 08310388
4.      Aziz Ulinuha                                                   NPM : 08310392
5.      Gita Noer Rahmasari                                      NPM : 08310399
6.      Indah Rizkiana                                               NPM : 08310403
7.      Lia Nurul Fuadah                                           NPM : 08310406
8.      Maria Ulfa                                                      NPM : 08310408
9.      Muhammad Muhsin Riza’I                            NPM : 08310410
10.  Resti Yulianingsih                                          NPM : 08310413
11.  Rusli Yuliandi Rosyidin                                NPM : 08310414
12.  Sukma Latifa                                                 NPM : 08310418
13.  Triyanti                                                           NPM : 08310420
14.  Wachidatul Annisa                                        NPM : 08310421
Dengan ini menyatakan bahwa laporan yang dibuat oleh mahasiswa tersebut telah selasai dan siap disahkan.
Semarang, 3 Mei 2010
Menyetujui,
         Pembimbing II                                                                Pembimbing I

    Supandi, S.Si., M.Si.                                              Achmad Buchori S.Pd, M.Pd.
       NPP. 097401245                                                            NPP. 098101246
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Matematika


Drs. Rasiman, M. Pd.
NIP. 19560218 198603 1 001
KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad, hidayah serta innayah-Nya kepada penulis sehingga Laporan Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) ini dapat terselesaikan seperti yang diharapkan.
Tugas KIPMATH II yang dilaksanakan selama 5 hari di Bali, bukan merupakan semata-mata pencapaian yang dilakukan oleh salah satu pihak, banyak sekali hambatan dan tantangan yang ditemui yang semua itu tidaklah mungkin kami selesaikan sendiri tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sehingga tugas KIPMATH ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada          :
1.         Bapak Muhdi SH. M.Hum, selaku rektor IKIP PGRI Semarang.
2.         Bapak Drs Rasiman M.Pd selaku ketua program studi Pend. Matematika.
3.         Bapak Supandi, S.Si., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
4.         Bapak Achmad Buchori S.Pd, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
5.         Semua teman-teman kelas 4J yang telah memberikan dorongan.
Dalam pembuatan laporan ini tidak luput dari kesalahan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat menambah pengetahuan bagi kita semua khususnya rekan-rekan mahasiswa IKIP PGRI Semarang..

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................          1
HALAMAN  PERSETUJUAN..............................................................          2
KATA PENGANTAR............................................................................          3
DAFTAR ISI  .........................................................................................          4
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................          5
B. Perumusan Masalah........................................................................          6
C. Tujuan dan Manfaat.......................................................................          6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.  Jurusan Tiga Angka ......................................................................           8
2.  Klinometer ....................................................................................           8
3.  Statistika .......................................................................................           9
4.  Volume Balok ...............................................................................           10
5.  Trigonometri .................................................................................           12
BAB III PEMBAHASAN
A. Data Lapangan...............................................................................          13
B. Kajian Keilmuan terhadap Data Lapangan....................................          21    
C. Metode, Teori dan Model Pembelajaran yang
     Relevan...........................................................................................          41
D. Skenario Pembelajaran Berdasarkan Data Lapangan ....................          53
BAB IV PENUTUP
A.    Simpulan .......................................................................................          66
B.     Saran..............................................................................................          66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

                                                        

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang
Belajar dan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang dibawanya sejar lahir. Aktivitas potensi ini sangat berguna bagi manusia untuk dapat menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhannya. Kebutuhan manusia makin lama makin bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Kegiatan belajar dan pembelajaran dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Belajar dan pembelajaran di sekolah sifatnya formal. Semua komponen dalam proses belajar dan pembelajaran direncanakan secara sistematis. Komponen guru sangat berperan penting dalam membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu seorang guru harus bisa mengetahui strategi, metode, maupun pendekatan yang tepat dalam proses pembelajaran.
Dalam rangka melaksanakan struktur kurikulum yang berlaku saat ini di IKIP PGRI Semarang, maka mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 merupakan mata kuliah wajib Program studi Pendidikan Matematika Semester IV dengan beban 2 SKS dan wajib diikuti oleh Mahasiswa IKIP PGRI Semarang sebagai syarat kelulusannya.
Pelaksanaan mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) dilaksanakan di Bali dikarenakan di Bali terdapat tempat-tempat yang sesuai untuk melaksanakan kegiatan tersebut yaitu mempraktekkan teori-teori mata kuliah yang telah diterima. Mata kuliah tersebut antara lain: Geometri, Kalkulus, Statistik, Strategi Pembelajaran Matematika dan Inovasi Pembelajaran Matematika 2. Sedangkan tempat yang dikunjungi untuk melaksanakan kegiatan tersebut antara lain: Kebun Raya Bedugul, Garuda Wisnu Kencana (GWK), Tanjung Benoa, Tanah Lot, dan Pasar Sukowati.

B.     Rerumusan Masalah
Permasalahan yang kami temukan dalam melaksanakan mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) yang bersifat outdoor Learning yang dilaksanakan di Bali:
a.   Bagaimana penerapan mata kuliah Kalkulus, Geometri dan Statistik untuk memperoleh data di lapangan?
b.  Bagaimana kajian keilmuan terhadap data yang dikumpulkan di lapangan?
c.   Bagaimana metode, teori, dan model pembelajaran yang relevan sesuai data yang diperoleh di lapangan?
d.  Bagaimana skenario pembelajaran matematika berdasarkan data yang diperoleh di lapangan?

C.    Tujuan dan Manfaat
1.      Tujuan diadakannya mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) yang bersifat outdoor Learning yang dilaksanakan di Bali:
1.      Membuka pandangan mahasiswa secara kolektif sebagai bekal kesarjanaan, agar lebih mampu mengaitkan materi perkuliahan dengan kehidupan sehari-hari.
2.      Mahasiswa dapat menerapkan konsep dan prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Mahasiswa mampu menganalisis  segala permasalahan pembelajaran sehingga mampu memilih strategi pembelajaran yang tepat.
4.      Mahasiswa mampu merefleksikan pembelajaran matematik disekolah yang bernuansa nilai-nilai edukasi.

2.      Manfaat diadakannya mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) yang bersifat outdoor Learning yang dilaksanakan di Bali:
1.      Mahasiswa dapat mempratekkan teori pada mata kuliah kalkulus, untuk menghitung luas dan volume suatu benda yang tidak dapat terjangkau/tidak dapat diukur menggunakan cara biasa.
2.      Mahasiswa dapat mempraktekan teori pada mata kuliah Geometri, untuk mengukur tinggin suatu benda dan jarak antarsa 2 buah obyek yang tidak dapat terjangkau menggunakan dengan cara biasa.
3.      Mahasiswa dapat mempraktekkan teori pada mata kuliah stratistika.
4.      Mahasiswa dapat meracang pembelajaran matematika yang memuat nilai-niai budaya dan pendidikan bagi siswa.


.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.   Jurusan Tiga Angka
Penunjukan arah seperti dalam pelayaran dan penerbangan sering digunakan penunjukan arah yang lebih cermat dan lebih sempurna, disebut jurusan tiga angka.
Dalam hal ini suatu arah dinyatakan dengan besar suatu sudut dengan ketentuan sebagai berikut:
1.      Besarnya sudut dinyatakan dengan tiga angka.
2.      Arah utara dinyatakan dengan 000º.
3.        Besarnya sudut dihitung dari arah utara, searah dengan gerak arah jarum jam.
Kegunaan dari alat jurusan tiga angka ini adalah ontuk mengukur jarak dua obyek dan untuk menentukan arah dua obyek. Adapun cara kerja alat ini adalah sebagai berikut :
1.        Letakkan alat ini pada ketinggian  1m, posisi datar sempurna (agar jarum kompas dapat bergerak dengan sempurna).
2.        Posisikan  000º / 360º pada arah utara.
3.        Amati obyek sasaran menggunakan atau melalui tangkai pengamat.
4.        Baca skala derajat yang ditunjuk oleh bandul tangkai pengamat                  
2.   klinometer
Kegunaan alat ini adalah untuk mengukur besar sudut elevasi dan menentukan tinggi obyek. Adapun cara kerja klinometer yaitu :
1.    Pegang alat ini sambil berdiri dalam posisi yang nyaman dan hindari tiupan angin kencang agar bandul stabil.
2.    Amati ujung obyek sasaran melalui tangkai pengamat.
3.    Baca skala derajat yang ditunjukkan oleh bandul.
4.    Sudut yang dibaca adalah sudut elevasi.


3.   Statistika
Statistika adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara-carapengumpulan data,pengolahan data,dan penarikan kesimpulan berdasarkan pengumpalan data yang di lakukan.
1.    Populasi dan Sampel
a.    Populasi adalah himpunan dari seluruh anggota yang mempunyai sifat sama yang menjadi sasaran pengamatan.
b.    Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk dijadikan objek pengamatan langsung dan dapat dijadikan dasar dalam penarikan kesimpulan.
2.    Jenis Data
a.    Data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan kategori (sifat) suatu objek.Misalnya,data mengenai mata pelajaran yang disukai.
b.    Data kuantitatif adalah data yang di peroleh dari hasil pengukuran yang bersifat numerik (berupa angka-angka).Misalnya, data mengenai tinggi badan siswa dan banyak siswa di suatu sekolah.
3.    Cara Pengumpulan Data
a.    Memecah                                                
Data diperoleh dengan cara mencacah, membilang atau menghitung banyak objek.
Contoh : Data tantang banyak petak sawah untuk masing-masing desa di lima desa.
b.    Mengukur                                                
Data diperoleh dengan cara mengukur objek.
Contoh : Tentang petak sawah dan data tentang berat padi gabah kering. Luas sawah diperoleh dengan cara mengukuur panjang
4.    Mengurutkan Data
     Dalam penyajian dan pengolahan data, maka data tewrsebut perlu diurutkan dari nilai terkecil sampai nilai terbesar, sehingga dapat diketahui penyebaran atau jangkauannya.
Jangkauan atau rentangan suatu data tunggal adalah jarak atau selisih antara nilai tertinggi dengan nilai terendah.
Jangkauan  =  Nilai tertinggi  -  Nilai terendah
-    Nilai tertinggi  :  nilai yang paling besar dari sekumpulan data
-    Nilai terendah  :  nilai yang paling kecil dari sekumpulan data
5.    Ukuran Pemusatan
Ukuran pemusatan terdiri atas mean, median, dan modus.
 Mean (Rataan)
 Mean suatu data adalah jumlah seluruh nilai data itu dibagi dengan banyaknya data.
 Untuk menentukan mean pada data tunggal dapat di cari dengan rumus:
 Mean
 Dengan : x  =  nilai data                         =  rataan/mean
                          n  =  banyaknya data
 Misalkan sekumpulan data terdiri atas nilai x1, x2, x3,....,xn dan ditentukan oleh rumus :
 Untuk menentukan mean pada data kelompok dapat di cari dengan rumus:  
frekuensi ke-i
  titik tengah kelas ke-i

4.   Volume Balok
Untuk menyatakan ukuran besar suatu bangun ruang digunakan volume. Volume suatu bangun ruang ditentukan dengan membandingkan terhadap satuan pokok volume, misalnya 1 cm³.


Perhatikan balok ABCD.EFGH !
Luas Alas ABCD = AB x  BC
                          = p x  l
                          = pl
Volum balok = Luas Alas ABCD x  tinggi
                    = pl x  t







5.   Trigonometri
Perhatikan gambar dibawah ini







 



 



 




Dalam segitiga  siku – siku berlaku :
  1. Sinus suatu sudut ialah perbandingan antara sisi dihadapan sudut tersebut dengan sisi miring, maka
  2. Cosinus suatu sudut ialah perbandingan anta sisi alas dengan sisi miring, maka
  3. Tangens suatu sudut ialah perbandingan antara sisi dihadapan sudut dengan alas, maka
  4. Cotangens suatu sudut ialah perbandingan antara sisi alas dengan sisi dihadapan, maka
Dalam segitiga sembarang juga berlaku :
·     Aturan sinus
        
·     Aturan cosinus
·     Luas segitiga
         










BAB III
PEMBAHASAN

a.     Data Lapangan.
1.      Menghitung tinggi suatu obyek
a.       Obyek   : Garuda Wisnu Kencana dan Kebun Raya Eka Karya
b.      Hari       : Rabu dan Jum’at
c.       Tanggal : 7 dan 9 April 2010
d.      Waktu   : 15.30 – 17.00 WITA dan 09.00 – 11.00 WITA
e.       Alat       : Klinometer
                Rafiah (Meteran)
f.       Langkah kerja:
1.  Menentukan jarak Pengamat (C) ke Obyek (A) misal AC = m
2.  Menentukan Sudut Elevasi dari C ke ujung Obyek B misaL ABC =
3.  Menghitung tinggi AB menggunakan gambar berskala dan trigonometri
Dari langkah – langkah diatas diperoleh data sebagai berikut :
a)  Patung Wisnu
1.  Data pertama
- Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 12,75 m
- Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,53 m
- Sudut () = 570
2.   Data kedua
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 12,75 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,76 m
-  Sudut () = 580
3.  Data ketiga
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 12,75 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,67 m
-  Sudut () = 57,50


b)  Patung Garuda
1.  Data pertama
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 14 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,57 m
-  Sudut () = 400
2.  Data kedua
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 14 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,62 m
-  Sudut () = 390
3.  Data ketiga
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 14 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,50 m
-  Sudut () = 390
c)  Patung di Kebun Raya Eka Karya
1.  Data pertama
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 5,25 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,57 m
-  Sudut () = 600
2.  Data kedua
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) =  5,25m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,76 m
-  Sudut () = 580
3.  Data ketiga
-  Jarak titik tengah objek dari pengamat (AC) = 5,25 m
-  Tinggi pengamat (tpengamat) = 1,63 m
-  Sudut () = 570
2.      Menghitung jarak antara dua obyek
a.                                       Obyek         : Tanjung Benoa
b.                                      Hari : Rabu
c.                                       Tanggal       : 7 April 2010
d.                                      Waktu         : 10.00 – 11.30 WITA
e.                                       Alat  :
·     jurusan tiga angka
·     meteran
f.                                                                                                       Langkah – langkah pengamatan:
1.  Dari titik P :
a.   Memposisikan alat pengukur jurusan tiga angka 0000 pada arah utara.
b.  Menentukan sudut jurusan tiga angka ke objek A, objek B dan titik Q. Dari langkah ini dapat ditentukan  Ð APB dan Ð BPQ
2.  Dari titik Q :
a.   Memposisikan alat pengukur jurusan tiga angka 0000 pada arah utara.
b.  Menentukan jurusan tiga angka ke objek A, dan objek B. Dari langkah ini dapat ditentukan Ð AQB.
3.  Menghitung jarak AB menggunakan :
 - gambar berskala
 - trigonometri (aturan sinus)
4.  Menghitung arah jurusan tiga angka objek A dari B atau sebaliknya objek B dari A.
Dari langkah – langkah diatas diperoleh data sebagai berikut :
1.                  Data pertama
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 5 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2800
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2500
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2130
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2700
2.  Data kedua
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 6 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2750
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 1550
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3300
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2550
3.  Data ketiga
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 7 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2500
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 1550

3.      Menghitung luas dan volume suatu obyek
a.    Obyek   : Patung Wisnu
b.   Hari       : Rabu
c.    Tanggal : 7 April 2010
d.   Waktu   : 15.30 – 17.00 WITA
e.    Alat :
·     jurusan tiga angka
·     meteran
f.    Langkah – langkah pengamatan:
1. Dari titik P :
a.    Memposisikan alat pengukur jurusan tiga angka 0000 pada arah utara.
b.   Menentukan sudut jurusan tiga angka ke objek A, objek B dan titik
c.    Dari langkah ini dapat ditentukan  Ð APB dan Ð BPQ
2.  Dari titik Q :
a.    Memposisikan alat pengukur jurusan tiga angka 0000 pada arah utara.
b.   Menentukan jurusan tiga angka ke objek A, dan objek B.
c.    Dari langkah ini dapat ditentukan Ð AQB.
3. Menghitung jarak AB menggunakan : - gambar berskala
                                                                             - trigonometri (aturan sinus)
4.   Menghitung arah jurusan tiga angka objek A dari B atau sebaliknya objek B dari A.
Dari langkah – langkah diatas diperoleh data sebagai berikut :
- Garuda Wisnu Kencana
1.  Data pertama
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) 8 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2800
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2500
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2130
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2700
2.  Data kedua
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 6 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2750
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 1550
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3300
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2550
3.  Data ketiga
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 7 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2500
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 1550
4.      Menerapkan Statistika
a.    Obyek     : Wisatawan Pantai Kuta
b.   Hari        : Kamis
c.    Tanggal   : 8 April 2010
d.   Waktu     : 17.00 – 18.00 WITA
Dengan mewawancarai beberapa wisatawan, maka diperoleh data sebagai berikut:


Tabel wawancara
Wisatawan
Waktu
1
90 menit
2
200 menit
3
100 menit
4
230 menit
5
200 menit
6
15 menit
7
200 menit
8
15 menit
9
210 menit
10
210 menit
11
50 menit
12
120 menit
13
90 menit
14
230 menit
15
5 menit
16
5 menit
17
200 menit
18
200 menit
19
200 menit
20
200 menit
21
200 menit
22
30 menit
23
30 menit
24
230 menit
25
230 menit



5.      Menerapkan nilai budaya dalam pembelajaran matematika
a.       Obyek    : Tari Barong
b.      Hari        : Kamis
c.       Tanggal  : 8 April 2010
d.      Waktu    : 09.30 – 10.30 WITA
e.       Hasil Pengamatan :
Tari Barong adalah Tari Bali yang muncul sekitar tahun 1930 an dan sangat di sakralkan. Namun seiring dengan perkembangan pariwisata, akhirnya tarian ini sering dipentaskan demi kepentingan pariwisata. Tari Barong menggambarkan pertarungan antara Kebajikan melawan Kebatilan. Barong adalah binatang purbakala yang melukiskan kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala mahasakti yang melambangkankebatilan.
Pembukaan
Barong dan Kera sedang berada didalam hutan yang lagi asyik bercanda, tiba tiba datang tiga orang bertopeng yang sedang mencari harimau pemakan salah satu anak mereka. orang-orang itu sangat marah ketika melihat Barong (harimau) itu, dan terjadilah perkelahian antara orang itu dengan Barong, akhirnya orang orang itu pergi ketika melihat salah satu temannya digigit hidungnya oleh Kera.
Bagian
1
Dua orang penari muncul, mereka adalah pengikut dari Rangda yang sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui Patihnya.
Bagian 2
Para pengikut Dewi Kunti datang,dan tanpa diketahui salah seorang dari pengikut rangda berubah wujud lalu merasuki roh dari salah satu pengikut Dewi Kunti sehingga menyebabkan mereka menjadi marah, keduanya menemui patih dan bersama sama menemui dewi Kunti.
Bagian 3
Munculah Dewi Kunti bersama anaknya bernama Sahadewa,Dewi Kunti berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai tumbal, sebetulnya Dewi Kunti tidak tega mengorbankan anaknya tetapi Rangda telah memasukan roh jahat kepadanya dan menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah kepada anaknya. lalu menyuruh Patihnya untuk membuang Sahadewa ketengah hutan, Patihnya pun merasa iba kepada Sahadewa tetapi tiba-tiba saja patih tersebut juga kemasukan roh jahat dan secara beringas menyeret Sahadewa kedalam Hutan lalu mengikatnya didepan istana Sang Rangda.
Bagian 4
Turunlah Dewi Sita dan memberikan anugrah kepada Sahadewa berupa keabadian dan kejadian ini tanpa diketahui oleh Sang Rangda, kemudian datanglah Rangda untuk memakan Sahadewa, tetapi Sahadewa tidak dapat dibunuhnya berkat kesaktian yang dimilikinya, akhirnya Rangda menyerah kepada Sahadewa dan memohon keselamatan agar bisa masuk sorga.
Bagian 5
Kalika salah seorang pengikut Rangda menghadap Sahadewa untuk mohon keselamatan juga tetapi Sahadewa menolaknya, penolakan ini menimbulkan perkelahian diantara mereka, Kalika berubah wujud menjadi Babi Hutan namun Sahadewa mampu mengalahkan Babi Hutan tersebut, kemudian Kalika berubah wujud menjadi Burung raksasa namun lagi lagi Sahadewa mampu menandinginya, dan akhirnya Kalika berubah wujud menjadi Rangda yang sangat Sakti sehingga Sahadewa tidak mampu untuk mengalahkannya. Akhirnya Sahadewa berubah wujud menjadi Barong yang juga sangat sakti, terjadilah pertempuran hebat diantara mereka, karena sama sama sakti maka pertempuran antara Barong dan Rangda menjadi pertempuran yang abadi, pertempuran ini dijadikan simbol pertempuran antara Dharma melawan Adharma atau Kebenaran melawan Kejahatan.



b. Kajian Keilmuan terhadap Data Lapangan
1.      Menghitung tinggi suatu obyek
a.       Garuda Wisnu Kencana
1)  Kilas studi Garuda Wisnu Kencana
Patung Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan - Jimbaran, Bali. Patung ini merupakan karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Monumen ini dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi ikon bagi pariwisata Bali dan Indonesia.
Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara (Sthiti), mengendarai burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat di kisah Garuda & Kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.
Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty.
2)   Kajian Keilmuan terhadap Data Lapangan
a)                                                                    Kajian keilmuan terhadap data lapangan pada patung Wisnu









1.  Data Pertama:
Diket     :


Ditanya : tinggi patung Wisnu ?
Jawab    :


 










2.  Data Kedua
Diket           :


Ditanya       : tinggi patung Wisnu ?
Jawab          :









3.  Data Ketiga:
Diket       :


 


Ditanya   : tinggi patung Wisnu ?
Jawab      :
 










b). Kajian keilmuan terhadap data lapangan pada patung Garuda












Gambar 3
 

Gambar 4
 
 


1.      Data Pertama
Diket         :


Ditanya     :  tinggi patung Garuda ?
Jawab        :










2.  Data Kedua:
Diket           :


Ditanya       :  tinggi parung Garuda ?
Jawab          :


 










3.      Data Ketiga:
Diket         :


Ditanya :  tinggi patung Garuda ?
Jawab        :









b.  Kebun Raya Eka Karya














Gambar  5
 

Gambar 6
 
 


1)      Kajian Keilmuan terhadap Data Lapangan
1.  Data Pertama
Diket     :


Ditanya : tinggi patung di Kebun Raya Bedugul
Jawab    :










 









2.  Data Kedua
Diket         :


Ditanya     : tinggi patung di Kebun Raya Bedugul
Jawab        :









3.      Data Ketiga :
Diket           :


Ditanya     : tinggi patung di Kebun Raya Bedugul
Jawab        :








 











  1. Menghitung jarak antara dua buah obyek













Gambar 7
 

Gambar 8
 
 
a.       Data pertama
Diket         : -  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 5 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2800
-  Pengamat P melihat B dengan jurusan tiga anggka 2500
-  Pengamat P melihat Q dengan jurusan tiga anggka 2130  
-  Pengamat Q melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat Q melihat B dengan jurusan tiga anggka 2700
Dit             : Jarak AB

Jawab        :

Mencari panjang AQ :
Lihat PQA, PQ = 5 m
< APQ = 2800 - 2130 = 670
< AQP = < AQU + < UQP
 = (3600 - 3000) + (2130 - 1800)
                             = 600 - 330
                             = 930
< APQ  = 1800 – (670 + 930)
 = 1800 - 1600
 = 200
Sehingga : 
              







Mencari panjang BQ :
Lihat PQA, PQ = 5 m
< BPQ = 2500 - 2130 = 370
< BQP = < BQU + < UQP
 = (3600 - 2700) + (2130 - 1800)
                             = 900 - 330
                             = 1230
< BPQ  = 1800 – (370 + 1230)
 = 1800 - 1600
 = 200


Sehingga :
                








Perhatikan ∆ ABQ
AQ = 13,5 dan BQ = 8,9
<AQB = Arah QA – arah QB
= 3000 – 2700 = 300
Dengan meggunakan aturan cosinus diperoleh
AB2 = AQ2 + BQ2 – AQ.BQ cos <AQB
AB2 = 13,52 + 8,92 – 13,5 x 8,9 cos 300
AB = 12,5 m
b.  Data kedua
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 6 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2500
-  Pengamat P melihat B dengan jurusan tiga anggka 2100
-  Pengamat P melihat Q dengan jurusan tiga anggka 1900
-  Pengamat Q melihat A dengan jurusan tiga anggka 3000
-  Pengamat Q melihat B dengan jurusan tiga anggka 2400
Dit       : Jarak AB
Jawab  :





Mencari panjang AQ :
Lihat PQA, PQ = 8 m
< APQ = 2500 - 1900 = 600
< AQP = < AQU + < UQP
 = (3600 - 3000) + (1900 - 1800)
                             = 600 + 100
                             = 700
< PAQ= 1800 – (600 + 700)
 = 1800 - 1300
 = 500
Sehingga : 
              







Mencari panjang BQ :
Lihat PQA, PQ = 8 m
< BPQ = 2100 - 1900 = 200
< BQP = < BQU + < UQP
            = (3600 - 2400) + (1900 - 1800)
                    = 1200 + 100
                    = 1300
< BPQ  = 1800 – (200 + 1300)
          = 1800 - 1500
                     = 300


Sehingga :
                








Perhatikan ∆ ABQ
AQ = 9,04 dan BQ = 5,44
<AQB = Arah QA – arah QB
          = 3000 – 2400 = 600
Dengan meggunakan aturan cosinus diperoleh
AB2 = AQ2 + BQ2 – AQ.BQ cos <AQB
AB2 = 9,042 + 5,442 – 9,04 x 5,44 cos 600
AB = 9,3 m
c.   Data ketiga
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 9 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 2700
-  Pengamat P melihat B dengan jurusan tiga anggka 2300
-  Pengamat P melihat Q dengan jurusan tiga anggka 2100
-  Pengamat Q melihat A dengan jurusan tiga anggka 3200
-  Pengamat Q melihat B dengan jurusan tiga anggka 2600

Dit       : Jarak AB
Jawab  :



Mencari panjang AQ :
Lihat PQA, PQ = 9 m
< APQ = 2700 - 2100 = 600
< AQP = < AQU + < UQP
 = (3600 - 3200) + (2100 - 1800)
 = 400 + 300
 = 700
< APQ  = 1800 – (600 + 700)
= 1800 - 1300
= 500
Sehingga : 
              







Mencari panjang BQ :
Lihat PQA, PQ = 9 m
< BPQ = 2300 - 2100 = 200
< BQP = < BQU + < UQP
            = (3600 - 2600) + (2100 - 1800)
          = 1000 + 300
          = 1300
< BPQ  = 1800 – (20 0 + 1300)
                = 1800 - 1500
                     = 300


Sehingga :
                








Perhatikan ∆ ABQ
AQ = 10,17  dan BQ = 6,12
<AQB = Arah QA – arah QB
= 3200 – 2600 = 600
Dengan meggunakan aturan cosinus diperoleh
AB2 = AQ2 + BQ2 – AQ.BQ cos <AQB
AB2 = 10,172 + 6,122 – 10,17 x 6,12 cos 600
AB = 10,33 m

3.      Menghitung luas dan volume suatu obyek
  1. kajian keilmuan terhadap data lapangan pada patung Wisnu
Diket : tinggi patung Wisnu






 










b.   Diameter patung Wisnu
-  Jarak pengamat P dan Q = (PQ) = 8 m
-  Pengamat P melihat A dengan jurusan tiga anggka 1900
-  Pengamat P melihat B dengan jurusan tiga anggka 1600
-  Pengamat P melihat Q dengan jurusan tiga anggka 1200
-  Pengamat Q melihat A dengan jurusan tiga anggka 2100
-  Pengamat Q melihat B dengan jurusan tiga anggka 1850
Dit       : Jarak AB (lebar pundak)
Jawab  :

UU
A

 
 







Mencari panjang AQ :
Lihat PQA, PQ = 8 m
< APQ = 190 – 1200 = 700
< AQP = < AQU + < UQP
 = (3600 - 2100) + (1800- 1200)
                             = 900
< APQ  = 1800 – (900 + 700)
 = 1800 - 1600
 = 200
Sehingga : 
              



Mencari panjang BQ :
Lihat PQA, PQ = 8 m
< BPQ = 1800 - 1200 = 400
< BQP = < BQU + < UQP
 = (3600 - 1850) + (1800 - 1200)
                             = 1750 - 600
                             = 1150
< BPQ  = 1800 – (1150 + 400)
 = 1800 - 1550
 = 250
Sehingga :
                




Perhatikan ∆ ABQ
AQ = 22,12 dan BQ = 12,15
<AQB = Arah QA – arah QB
          = 210 - 185 = 250
Dengan meggunakan aturan cosinus diperoleh
AB2 = AQ2 + BQ2 – AQ.BQ cos <AQB
AB2 = 22,122 + 12,152 – 22,12 x 12,15 cos 250
AB = 19,90 m
Dari data di atas diketahui tinggi patung wisnu = 21,683 dan berdiameter = 19,90 m (r = 9,95 m)
Luas alas patung = π r²
                            = 3,14 × (99,95)²
                            = 310,87 m²
Volume patung = luas alas × t
                         = 310,87 × 21,683
                         = 6.740,59 m³
4.   Menerapkan Statistika





Gambar 11
 

Gambar 12
 
 
a.       Data yang diperoleh di lapangan
Tabel wawancara
Wisatawan
Waktu
1
90 menit
2
200 menit
3
100 menit
4
230 menit
5
200 menit
6
15 menit
7
200 menit
8
15 menit
9
210 menit
10
210 menit
11
50 menit
12
120 menit
13
90 menit
Wisatawan
Waktu
14
230 menit
15
5 menit
16
5 menit
17
200 menit
18
200 menit
19
200 menit
20
200 menit
21
200 menit
22
30 menit
23
30 menit
24
230 menit
25
230 menit





b.      Kajian keilmuan terhadap data di lapangan
Untuk Uji Rerata dari data tersebut maka harus dilakukan beberapa langkah, adapun langkah – langkah tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Hipotesis (dan ) dalam uraian kalimat
 = rata – rata seorang wisatawan berada di Pantai Kuta lebih dari 200 menit.
 = rata – rata seorang wisatawan berada di Pantai Kuta kurang dari atau sama dengan 200 menit.
2.      Hipotesis  (dan ) model statistik
 =
=
3.      Menghitung standar deviasi (s) dan rata – rata (),dengan rumus :
=166,47
=139,6
4.      Menghitung  dengan rumus :
= -9,01
5.      Menentukan taraf signifikan  kemudian dicari  dengan ketentuan : db = n – 1; db = 25 – 1 = 24, sehingga didapatkan  = 1,711
6.      menentukan kriteria penguji
 Jika -   maka ditolak dan  diterima
7.      Membandingkan antara  dengan
Ternyata -1,711 > -9,01 maka diterima dan  ditolak
8.      Kesimpulan
 = rata – rata seorang wisatawan berada di Pantai Kuta lebih dari 200 menit diterima dan = rata – rata seorang wisatawan berada di Pantai Kuta kurang dari atau sama dengan 200 menit ditolak
5.      Menerapkan nilai budaya dalam Pembelajaran Matematika





Gambar 13
 

Gambar 14
 
 


 Tari Barong adalah Tari Bali yang muncul sekitar tahun 1930 an dan sangat di sakralkan. Namun seiring dengan perkembangan pariwisata, akhirnya tarian ini sering dipentaskan demi kepentingan pariwisata. Tari Barong menggambarkan pertarungan antara Kebajikan melawan Kebatilan. Barong adalah binatang purbakala yang melukiskan kebajikan dan Rangda adalah binatang purbakala mahasakti yang melambangkankebatilan.
Pembukaan
Barong dan Kera sedang berada didalam hutan yang lagi asyik bercanda, tiba tiba datang tiga orang bertopeng yang sedang mencari harimau pemakan salah satu anak mereka. orang-orang itu sangat marah ketika melihat Barong (harimau) itu, dan terjadilah perkelahian antara orang itu dengan Barong, akhirnya orang orang itu pergi ketika melihat salah satu temannya digigit hidungnya oleh Kera.
Bagian
1
Dua orang penari muncul, mereka adalah pengikut dari Rangda yang sedang mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan untuk menemui Patihnya.
Bagian 2
Para pengikut Dewi Kunti datang,dan tanpa diketahui salah seorang dari pengikut rangda berubah wujud lalu merasuki roh dari salah satu pengikut Dewi Kunti sehingga menyebabkan mereka menjadi marah, keduanya menemui patih dan bersama sama menemui dewi Kunti.
Bagian 3
Munculah Dewi Kunti bersama anaknya bernama Sahadewa,Dewi Kunti berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai tumbal, sebetulnya Dewi Kunti tidak tega mengorbankan anaknya tetapi Rangda telah memasukan roh jahat kepadanya dan menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah kepada anaknya. lalu menyuruh Patihnya untuk membuang Sahadewa ketengah hutan, Patihnya pun merasa iba kepada Sahadewa tetapi tiba-tiba saja patih tersebut juga kemasukan roh jahat dan secara beringas menyeret Sahadewa kedalam Hutan lalu mengikatnya didepan istana Sang Rangda.
Bagian 4
Turunlah Dewi Sita dan memberikan anugrah kepada Sahadewa berupa keabadian dan kejadian ini tanpa diketahui oleh Sang Rangda, kemudian datanglah Rangda untuk memakan Sahadewa, tetapi Sahadewa tidak dapat dibunuhnya berkat kesaktian yang dimilikinya, akhirnya Rangda menyerah kepada Sahadewa dan memohon keselamatan agar bisa masuk sorga.
Bagian 5
Kalika salah seorang pengikut Rangda menghadap Sahadewa untuk mohon keselamatan juga tetapi Sahadewa menolaknya, penolakan ini menimbulkan perkelahian diantara mereka, Kalika berubah wujud menjadi Babi Hutan namun Sahadewa mampu mengalahkan Babi Hutan tersebut, kemudian Kalika berubah wujud menjadi Burung raksasa namun lagi lagi Sahadewa mampu menandinginya, dan akhirnya Kalika berubah wujud menjadi Rangda yang sangat Sakti sehingga Sahadewa tidak mampu untuk mengalahkannya. Akhirnya Sahadewa berubah wujud menjadi Barong yang juga sangat sakti, terjadilah pertempuran hebat diantara mereka, karena sama sama sakti maka pertempuran antara Barong dan Rangda menjadi pertempuran yang abadi, pertempuran ini dijadikan simbol pertempuran antara Dharma melawan Adharma atau Kebenaran melawan Kejahatan.
Dari sederet cerita diatas didapatkan sebuah jalan cerita yang berhubungan dengan pembelajaran matematika yaitu di bagian “Kalika berubah wujud menjadi Babi Hutan namun Sahadewa mampu mengalahkan Babi Hutan tersebut, kemudian Kalika berubah wujud menjadi Burung raksasa namun lagi lagi Sahadewa mampu menandinginya, dan akhirnya Kalika berubah wujud menjadi Rangda yang sangat Sakti sehingga Sahadewa tidak mampu untuk mengalahkan” dari itu disimpulkan perubahan menjadi lebih tinggi, dan masuk pelajaran aljabar
c. Pembahasan
Pada kajian data terhadap data lapangan terdapat perbedaan hasil penghitungan baik dalam  menghitung tinggi suatu obyek maupun menentukan jarak antara dua obyek. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor diantaranya adalah praktikan yang kurang teliti dan banyaknya praktikan yang melakukan percobaan sehingga menghasilkan sudut elevasi yang bervariasi. Selain itu banyaknya para wisatawan yang berkunjung sehingga membuat praktikan kurang konsentrasi dalam menentukan sudut elevasinya.
c.       Metode, Teori dan Model Pembelajaran yang Relevan
TUGAS 1 : Menghitung Tinggi suatu Objek
1.                                                                                                      Metode Pembelajaran           : Kegiatan lapangan, Pemecahan masalah
2.      Teori Pembelajaran              : Ausebel, Skinner, Bruner
3.      Model Pembelajaran             :  Cooperatif Learning
TUGAS 2 : Menghitung Jarak antara Dua Objek
1.                                                                              Metode Pembelajaran           : Kegiatan lapangan, Diskusi
2.                                                                              Teori Pembelajaran              : Ausebel, Thorndike, Bruner
3.                                                                              Model Pembelajaran             : CTL (Contekstual Teaching Learning)
TUGAS 3 : Menghitung Luas dan Volume suatu Objek
  1. Metode Pembelajaran           : Kegiatan lapangan, Eksppositori
  2. Teori Pembelajaran              : Ausebel, skinnner, Bruner
3.      Model Pembelajaran             : STAD
TUGAS 4 : Menerapkan Statistika
1.                  Metode Pembelajaran     : Kegiatan lapangan, Ekspositori, Diskusi
2.                  Teori Pembelajaran                    : Ausubel, Thorndike, Gagne, Skiner,
3.                  Model Pembelajaran                   : Outdoor Learning
TUGAS 5 : Menerapkan Nilai Budaya dalam Pemelajaran Matematika
  1. Metode Pembelajaran           : Kegiatan lapangan, Observasi
  2. Teori Pembelajaran              : Ausebel, Gagne
3.      Model Pembelajaran             : STAD


1.      Metode Pembelajaran
a.    Kegiatan Lapangan
  Metode kegiatan lapangan adalah suatu kegiatan yang dilakukan diluar kelas dan dilakukan secara berkelompok. Guru hanya memberi tugas, siswa merancang sendiri, melakukan sendiri dan membuat laporan tertulis. Kegiatan lapangan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari, seperti kegiatan yang berkaitan dengan statistik dan menghitung tinggi suatu benda.
b.   Pemecahan Masalah
  Pemecahan-masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan dalam pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui  kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematik penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, menggeneralisasian, komunikasi matematik, dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan pemecahan masalah dalam proses pembelajaran matematika belum dijadikan sebagai kegiatan utama. Pemecahan-pemecahan matematika merupakan salah satu kegiatan matematik yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan mulai dari Sekolah Dasar sampai SMU. Akan tetapi, hal tersebut masih dianggap sebagai bagian yang paling sulit dalam matematika baik bagi siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam mengajarkannya.
c.    Observasi
Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena :
a.   Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.
b.  Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.
c.   Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.
d.  Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
e.   Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.


d.   Metode Ekspositori
  Metode ekspositori merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide atau gagasan atau memberikan informasi kepada orang lain. Metode ini hampir sama dengan metode ceramah, tetapi dominasi guru sedikit berkurang karena guru tidak terus menerus menyampaikan materi dan peserta didik lebih aktif yaitu tidak hanya mendengarkan materi dari guru melainkan juga membuat catatan atau mengerjakan soal. Selain itu jika ada siswa yang belum mengerti tentang penjelasan dari guru maka siswa diharuskan untuk bertanya kepada teman yang dianggap mampu atau bertanya langsung kepada guru.
     Guru juga bisa mengecek pekerjaan siswa secara individu maupun secara klasikal, seperti dengan meminta salah satu siswa untuk mengerjakan dipapan tulis.
e.    Metode Diskusi
                  Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa – siswa dihadapakan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematika untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Di dalam diskusi ini proses belajar mengajar dapat terjadi, dimana  interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman atau informasi sehingga semuanya aktif dan tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.
2.   Teori Belajar
a.  Teori Belajar Ausubel
              D.P. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik mampu mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Adanya struktur kognitif didalam mental peserta didik yang merupakan dasar unsur mengaitkan datangnya iformasi yang baru. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari tergantung kepada apa yang sudah diketahui. 
b.  Teori Belajar Skinner
Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar.
Terdapat perbedaan antara ganjaran dan penguatan. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakandan merupakan tingkah laku yang sifatnya subyektif, sedangkan penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah kepada hal – hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur.
Dalam teorinya Skinner menyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan negatif. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Dalam hal ini penguatan yang diberikan pada anak memperkuat tindakan anak, sehingga anak semakin sering melakukannya.
Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik (menunjang efektifitas pencapaian tujuan) harus segera diberi penguata positif agar respon tersebut lebih baik lagi atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan. Misalkan dengan mengatakan ”bagus pertahankan prestasimu” untuk siswa yang mendapat nilai tes yang memuaskan. Sebaliknya jika respon siswa kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pengajaran, harus segera diberi penguatan negatif agar respon tersebut tidak diulangi lagi dan berbah menjadi respon yang sifatnya positif. Penguatan negatif ini bisa berupa teguran, peringatan atau sangsi (hukuman edukatif)
c.    Teori Belajar Bruner
                 Jerome Brunner berpendapat bahwa belajar matematika ialah belajar tentang konsep – konsep dan struktur – struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan – hubungan antara konsep dan  struktur – struktur matematika itu.


d.   Teori Belajar Thorndike
Teori ini dikemukakan oleh Edward L. Thorndike. Teori ini disebut “Koneksionisma”. Menurut teori ini, dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon. Terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini menurut Thorndike menurut tiga hukum – hukum berikut:
a.   Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Hukum ini menjelaskan kesiapan individu untuk melakukan sesuatu. Interpretasi dari hukum kesiapan ini adalah bahwa belajar akan berhasil bila peserta didik telah siap untuk belajar.
b.  Hukum latihan
Hukum ini menunjukkan bahwa prinsip utama belajar adalah pengulangan. Bila stimulus diberikan maka akan terjadi respon. Dengan latihan, asosiasi antara stimulus dan responmenjadi otomatis.
Hukum ini berarti,makin sering suatu konsep matematika diulangi maka makin dikuasailah konsep matematika tersebut.
c.   Hukum akibat (Law of Effect)
Hukum  ini mengenai pengaruh ganjaran dan hukuman.Ganjaran, misalnya nilai baik hasil suatu pekerjaan matamatika. Hal ini menyebabkan peserta didik ingi terus melakukan kegiatan yang serupa, sedangkan hukuman, misalnya nilai jelek terhadap pekerjaan matematika. Hal ini menyebabkan peserta didik mungkin mogok untuk mengerjakan matematika.
Belajar menurut teori belajar Thorondike merupakan proses yang mekanis dan mengajar memegang peranan utama di dalam proses belajar peserta didik. Pengajar melatih peserta didik dan menentukan apa yang harus dipelajari peserta didik. Pandangan ini menunjukkan dengan adanya hubungan yang kuat antara stimulus dan respon, pelajaran dapat diingat dengan kuat oleh siswa.


e.  Teori Belajar Gagne
Menurut Gagne, dalam belajar matematika ada dua obyek yang dapat diperoleh siswa yaitu obyek tak langsung yang berupa kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana mestinya. Selain itu ada obyek langsung antara lain berupa fakta keterampilan, konsep dan prinsip.
Robert Gagne memberikan kontribusi banyak kepada teori dan penelitian dalam bidang analisis tugas. Ia menganut delapan tipe belajar didalam suatu hierarki hubungan yang didasarkan kepada pandangan bahwa tahap belajar yang lebih tinggi berdasarkan atas tahap belajar yang lebih rendah. Adapun delapan tipe belajar menurut Gagne yaitu :
1)   Belajar sinyal (signal learning)
Belajar dengan sinyal adalah belajar tanpa kesengajaan yang dihasilkan dari sejumlah stimulus yang akan menimbulkan suatu respon di dalam individu yang bersangkutan.
2)   Belajar S-R (S- R learning)
Belajar jenis ini adalah belajar untuk merespon suatu sinyal namun belajar ini berbeda dalam dua hal dengan belajar
3)   Belajar merangkai tingkah laku
Jenis belajar ini menunjukkan adanya dua atau lebih stimulus dan respon yang digabungkan bersama. Semua stimulus dan respon itu dirangkai berurutan sedemikian hingga stimulus dan respon yang satu menjadi stimulus dan respon yang telah dimiliki terhadap stimulus dan respon yang lain.
4)   Belajar asosiasi verbal(verbal chaining)
                Belajar jenis ini terjadi pada waktu memberi nama suatu benda.
5)   Belajar diskriminasi (diskrimination learning)
Belajar jenis ini adalah untuk membedakan hubungan antara stimulus dan respon agar dapat memahami bermacam – macam obyek fisik dan konsep. Melalui simbol dalam merespon lingkungannya peserta didik memerlukan keterampilan – keterampilan sederhana untuk membedakan satu simbol dengan simbol yang lain.
6)   Belajar konsep
Belajar jenis ini adalah belajar memahami kebersamaan sifat – sifat dari benda – benda kongkrit. Dengan demikian peserta didik memperoleh suatu kecakapan dengan membuat suatu respon yang sama menjadi satu jenis stimulus yang boleh jadi sangat berbeda di dalam penampilan fisiknya.
7)   Belajar aturan (rule learning)
Keterampilan intelektual yang lebih rumit dari pada belajar  diskriminasi dan belajar konsep adalah belajar aturan. Aturan didasarkan pada konsep – konsep yang telah dipelajari.
Belajar aturan adakah belajar yang memungkinkan peserta didik dapat menghubungkan dua konsep atau lebih. Kita katakan bahwa seseorang telah belajar aturan, bila seseorang itu mengikuti aturan itu dalam tingkah lakunya.
8)   Belajar memecahkan masalah
Di tipe belajar memecahkan masalah peserta didik berusaha menyeleksi dan menggunakan aturan – aturan yang telah dipelajari untuk membuat formulasi penyelesaian masalah.
Selain delapan tipe belajar, dalam teori belajar Gagne juga terdapat delapan unsur yang terkandung dalam teori belajar ini, yaitu: motivasi, pengenalan, perolehan, penyimpanan, pemanggilan, generalisasi, penamppilan, dan umpan balilk
3.Model Pembelajaran
a.   Out doorlearning
Out-doorlearning adalah pembelajaran yang dirancang untuk memunculkan kegembiraan dan keinginan siswa untuk bereksplorasi terhadap lingkungannya. Untuk mencapai proses ini, guru harus memilikigaya belajar yang menantang siswa dan menaik, sehingga pengelolaan pembelajaran benar-benar menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa Out-door learning mengasah aktivitas fisik dan social anak. Di mana anak akan lebih banyak melakukan kegiatan – kegiatan yang secara tidak langsung melibatkan kerja sama antar teman dan kemampuan berkreasi. Aktifitas ini akan memunculkan proses komunikasi, pemecahan masalah, kreatifitas, pengambilan keputusan, saling memahami, dan menghargai perbedaan.
Elemen-elemen penting yang perlu diperhatikan dalam Out-door learning yaitu:
1.   Alam terbuka sebagai sarana kelas.
2.   Berkunjung ke obyek langsung.

b.   Cooperatif Lerning
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri:
1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar  dalam kelompok secara kooperatif.
 2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
 3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula.
 4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.
Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Ibrahim dkk.  siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Untuk itu setiap anggota berkelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Sedangkan tujuan yang kedua, pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah  untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.
Menurut Ibrahim, dkk. pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk siswa yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan. Cooper mengungkapkan keuntungan dari metode pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran.
Menurut Ibrahim, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan 7) siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara  individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
c.    Contextual Teaching and Learning (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya.
 Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
A.    Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi segala bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL seperti dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. (2005:110), sebagai berikut:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada       (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilakusiswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan ataupenyempurnaanstrategi.

d.      Student Team Achievement Divisions (STAD)
a.       Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.

d.         Skenario Pembelajaran Berdasarkan Data Lapangan
1.      Tugas 1 : Menghitung Tinggi Suatu Obyek
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan         : SMA            
Mata Pelajaran               : Matematika
Materi pokok                  : Trigonometri
Kelas / Semester             : XI / I
Pertemuan ke                 : 1       
  I.    Standar Kompetensi       
Menurunkan rumus trigonometri dan penggunaannya 
II.    Kompetensi Dasar          
Menggunakan rumus sinus dan cosinus jumlah dua sudut, selisih dua sudut dan sudut ganda untuk mangjitung sinus dan cosinus sudut tertentu
III.    Indikator
Menggunakan pengertian  sinus, cosinus dan tangens dalam menentukan tinggi suatu benda.
IV.    Pembelajaran
1.   Tujuan Pembelajaran
                         Siswa dapat Menggunakan pengertian  sinus, cosinus dan tangens dalam menentukan tinggi suatu benda.
2.   Metode Pembelajaran
           Kegiatan lapangan dan pemecahan masalah
3.   Model Pembelajaran
    Cooperatif Learning
4.   Skenario  Pembelajaran
4.1.Kegiatan Awal (5 menit)
a.    Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
b.   Guru mengontrol kehadiran siswa.
c.    Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari, sub materi, kompetensi dasar, indikator.
d.   Guru melakukan apersepsi yaitu membantu siswa untuk mengingat kembali tentang pengertian sinus, cosinus dan tangens.
4.2.Kegiatan Inti (70 menit)    
a.       Guru mengajak siswa – siswa menuju lokasi pembelajaran.
b.      Guru menjelaskan cara kerja kelompok dan memberikan bimbingan pengerjaan kartu soal
c.       Guru bersama siswa melakukan fase – fase metode pembelajaran Cooperatif Learning.Adapun fase – fasenya sebagai berikut:
Fase 1 : Pembentukan kelompok – kelompok yang heterogen       sebanyak enam kelompok
Fase 2     :   Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk mencari data di lapangan.
Fase 3      : Setelah mendapatkan data, siswa dalam satu kelompok bersama – sama menganalisis data untuk mencari tinggi gedung sekolah.
Fase 4      :  Guru bersama siswa kembali ke dalam kelas.
Fase 5      : Guru memberi kesempatan kepada salah satu  kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Fase 6      : Selanjutnya guru memberikan quiz yang harus dikerjakan secara individu.
4.3.Kegiatan Akhir (15 menit)
a.    Guru memberikan penghargaan kepada kelompok.
b.   Dengan bimbingn guru, siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran.
c.    Guru memberikan tugas di rumah berupa mengerjakan soal – soal yang berkaitan dengan trigonometri.
5.   Sumber Belajar
5.1. Buku paket / modul matematika SMA kelas X I Semester 1 (Erlangga, Sartono Wirodikromo, 2004)
5.2. Buku referensi lain yang relevan dengan materi statistika.
5.3. Internet
6.   Penilaian
6.1. Jenis Tagihan     : Tes Individu
6.2. Teknik               : Quiz
6.3.Instrumen           : Uraian

2.                           Tugas 2 : Menghitung Jarak antara Dua Obyek
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan         : SMA            
Mata Pelajaran               : Matematika
Materi pokok                  : Trigonometri
Kelas / Semester             : XI / I
Pertemuan ke                 : 3       
I.       Standar Kompetensi      
Menurunkan rumus trigonometri dan penggunaannya 
II.    Kompetensi Dasar          
Menggunakan rumus sinus dan cosinus jumlah dua sudut, selisih dua sudut dan sudut ganda untuk mangjitung sinus dan cosinus sudut tertentu
III. Indikator
Menggunakan  sinus dan cosinus untuk menyelesaiakan permasalahan dalam kehidupan sehari – hari..
IV. Pembelajaran
1.      Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menggunakan  sinus dan cosinus untuk menyelesaiakan permasalahan dalam kehidupan sehari – hari.
2.      Metode Pembelajaran
Kegiatan lapangan dan diskusi
3.      Model Pembelajaran
STAD
4.      Skenario  Pembelajaran
4.1.Kegiatan Awal (5 menit)
a.   Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
b.   Guru mengontrol kehadiran siswa.
c. Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari, sub materi, kompetensi dasar, indikator.
d. Guru melakukan apersepsi yaitu membantu siswa untuk mengingat kembali tentang pengertian sinus, cosinus dan tangens.
4.2. Kegiatan Inti (70 menit)                  
a.       Guru mengajak siswa – siswa menuju lokasi pembelajaran.
b.      Guru menjelaskan cara kerja kelompok dan memberikan bimbingan pengerjaan kartu soal
c.       Guru bersama siswa melakukan fase – fase metode pembelajaran Cooperatif Learning.Adapun fase – fasenya sebagai berikut:
Fase 1     : Pembentukan kelompok – kelompok yang heterogen       sebanyak enam kelompok
Fase 2     : Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk mencari data di lapangan.
Fase 3     : Setelah mendapatkan data, siswa dalam satu kelompok bersama – sama menganalisis data untuk mencari jarak antara dua obyek.
Fase 4     :  Guru bersama siswa kembali ke dalam kelas.
Fase 5     :  Guru memberi kesempatan kepada salah satu  kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Fase 6     :  Selanjutnya guru memberikan quiz yang harus dikerjakan secara individu.
4.3. Kegiatan Akhir (15 menit)
a.    Guru memberikan penghargaan kepada kelompok.
b.   Dengan bimbingn guru, siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran.
c.    Guru memberikan tugas di rumah berupa mengerjakan soal – soal yang berkaitan dengan trigonometri.
5.      Sumber Belajar
5.1. Buku paket / modul matematika SMA kelas X I Semester 1 (Erlangga, Sartono Wirodikromo, 2004)
5.2. Buku referensi lain yang relevan dengan materi statistika.
5.4. Internet
6.      Penilaian
6.1. Jenis Tagihan         : Tes Individu
6.2. Teknik                    : Quiz
6.3.Instrumen               : Uraian
3.                           Tugas 3 : Menghitung Luas dan Volume suatu Obyek
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan         : SMA            
Mata Pelajaran               : Matematika
Materi pokok                  : Bangun Ruang
Kelas / Semester             : X / II
Pertemuan ke                 : 2       
Alokasi Waktu               : 2  45 menit

I.       Standar Kompetensi      
Menggunakan rumus bangun Ruang untuk memecahkan masalah.
II.    Kompetensi Dasar          
Menghitung Volume bangun ruang.
III. Indikator
Siswa mampu menghitung volume bangun ruang.
IV. Materi Pembelajaran
Bangun ruang
V.    Pembelajaran
1.      Tujuan Pembelajaran
      Siswa mampu menghitung volume bangun ruang.
2.      Metode Pembelajaran
Kegiatan lapangan
3.      Model Pembelajaran
STAD
4.      Skenario  Pembelajaran
4.1.Kegiatan Awal (5 menit)
a.    Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
b.   Guru mengontrol kehadiran siswa.
c.    Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari, sub materi, kompetensi dasar, indikator.
d.   Guru memotivasi siswa dengan memberi contoh aplikasi bangun ruang dalam kehidupan sehari – hari.
4.2. Kegiatan Inti (70 menit)
a.       Guru mengajak siswa – siswa menuju lokasi pembelajaran.
b.      Guru menjelaskan cara kerja kelompok dan memberikan bimbingan pengerjaan kartu soal
c.       Guru bersama siswa melakukan fase – fase Inovasi pembelajaran STAD adapun fase – fasenya sebagai berikut:
Fase 1      : Pembentukan kelompok – kelompok yang heterogen       sebanyak enam kelompok
Fase 2      :  Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk mencari data di lapangan.
Fase 3      :  Setelah mendapatkan data, siswa dalam satu kekompok bersama – sama menghitung volume dari data yang didapatkan.
Fase 4      :  Guru bersama siswa kembali ke dalam kelas.
Fase 5      :  Guru memberi kesempatan kepada salah satu  kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Fase 6      :  Selanjutnya guru memberikan quiz yang harus dikerjakan secara individu.
4.3. Kegiatan Akhir (15 menit)
a.    Guru memberikan penghargaan kepada kelompok.
b.   Dengan bimbingn guru, siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran.
c.    Guru memberikan tugas di rumah berupa mengerjakan soal – soal yang berkaitan dengan statistika.
5.      Sumber Belajar
5.1. Buku paket / modul matematika SMA kelas X  Semester II (Erlangga, Sartono Wirodikromo, 2004)
5.2. Buku referensi lain yang relevan dengan materi Bangun ruang
5.4. Internet
6.      Penilaian
6.1. Jenis Tagihan        : Tes Individu
6.2. Teknik                  : Quiz
6.3.Instrumen              : Uraian








4.                           Tugas 4 : Menerapkan Statistika
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan         : SMA            
Mata Pelajaran               : Matematika
Materi pokok                  : Statistika
Kelas / Semester             : XI / I
Pertemuan ke                 : 2       
Alokasi Waktu               : 2  45 menit

I.          Standar Kompetensi
            Menggunakan aturan statistika dalam menyajikan dan meringkas data dengan berbagai cara: memberi tafsiran, menyusun, dan menggunakan kaidah pencacahan dalam menentukan banyak kemungkinan dan menggunakan aturan peluang dalam menentukan dan menafsirpeluang kejadian majemuk..
II.       Kompetensi Dasar    
            Menghitung ukuran pemusatan. ukuran letak, dan ukuran penyebaran data beserta penafsirannya.
III.    Indikator
            Menentukan ukuran pemusatan data: rataan, median dan modus.
IV.    Materi Pembelajaran
            Statistika
V.       Pembelajaran
1.      Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menentukan ukuran pemusatan data: rataan, median dan modus.
2.      Metode Pembelajaran
Kegiatan lapangan
3.      Model Pembelajaran
Inovasi pembelajaran Outdoor Learning
4.      Skenario  Pembelajaran
4.1.Kegiatan Awal (5 menit)
e.    Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
f.    Guru mengontrol kehadiran siswa.
g.   Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari, sub materi, kompetensi dasar, indikator.
h.   Guru melakukan apersepsi yaitu membantu siswa untuk mengingat kembali tentang pengertian rataan, median dan modus.
i.     Guru memotivasi siswa dengan memberi contoh aplikasi statistika dalam kehidupan sehari – hari.
4.2. Kegiatan Inti (70 menit)
d.      Guru mengajak siswa – siswa menuju lokasi pembelajaran.
e.       Guru menjelaskan cara kerja kelompok dan memberikan bimbingan pengerjaan kartu soal
f.       Guru bersama siswa melakukan fase – fase Inovasi pembelajaran Outdoor Learning.Adapun fase – fasenya sebagai berikut:
Fase 1      : Pembentukan kelompok – kelompok yang heterogen       sebanyak enam kelompok
Fase 2      :  Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk mencari data di lapangan.
Fase 3      :  Setelah mendapatkan data, siswa dalam satu kekompok bersama – sama menghitung rataan, median dan modus dari data yang didapatkan.
Fase 4      :  Guru bersama siswa kembali ke dalam kelas.
Fase 5      :  Guru memberi kesempatan kepada salah satu  kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Fase 6      :  Selanjutnya guru memberikan quiz yang harus dikerjakan secara individu.
4.3. Kegiatan Akhir (15 menit)
d.   Guru memberikan penghargaan kepada kelompok.
e.    Dengan bimbingn guru, siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran.
f.    Guru memberikan tugas di rumah berupa mengerjakan soal – soal yang berkaitan dengan statistika.
5.      Sumber Belajar
5.1. Buku paket / modul matematika SMA kelas X I Semester 1 (Erlangga, Sartono Wirodikromo, 2004)
5.2. Buku referensi lain yang relevan dengan materi statistika.
5.4. Internet
6.      Penilaian
6.1. Jenis Tagihan        : Tes Individu
6.2. Teknik                  : Quiz
6.3.Instrumen              : Uraian

5.                           Tugas 5 : Menerapkan Nilai Budaya dalam Pembelajaran Matematika
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan    : SMA                 
Mata Pelajaran           : Matematika
                                 Materi pokok             : Sistem Persamaan Linier dan  Kuadrat
                              Sub Materi pokok      :  Sistem Persamaan Linier dengan Tiga Variabel
Kelas / Semester        : X / II
Pertemuan ke             : 2
I.   Standar Kompetensi  
Menggunakan operasi dan sifat manipulasi aljabar dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar, dan logaritma, persamaan kuadrat dan fungsi kuadrat;sistem persamaaan linier- kuadrat; pertidaksamaan satu variabel; logika matematika.


II.Kompetensi Dasar      
Malakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan teknis yang berkaitan dengan sistem persamaan.
III. Indikator
Menentukan penyelesaian sistem persamaan linier tiga variabel.
IV. Materi Pembelajaran
Sistem persamaan linier tiga variabel.
V. Pembelajaran
1.      Tujuan Pembelajaran
 Siswa dapat menentukan penyelesaian sistem persamaan linier tiga variabel.
2.      Metode Pembelajaran
Kombinasi ceramah, tanya jawab dan diskusi.
3.      Model Pembelajaran
Inovasi pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD Satu Tinggal Tiga Tamu
4.      Strategi  Pembelajar
4.1.Kegiatan Awal (5 menit)
a.   Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
b.  Guru mengontrol kehadiran siswa.
c.   Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari, sub materi, kompetensi dasar, indikator dan model pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah.
d.  Guru melakukan apersepsi yaitu membantu siswa untuk mengingat kembali tentang cara penyelesaiaan sistem persamaan linier tiga variabel dengan metode tanya jawab.
e.   Guru memotivasi siswa dengan memberi contoh penyelesaiaan sistem persamaan linier tiga variabeldalam kehidupan sehari – hari.
4.2. Kegiatan Inti (70 menit)
a.   Guru menjelaskan cara kerja kelompok dan memberikan bimbingan pengerjaan kartu soal
b.  Guru bersama siswa melakukan fase – fase Inovasi pembelajaran Cooperative Learning  tipe STAD Satu Tinggal Tiga Tamu.Adapun fase – fasenya sebagai berikut:
Fase 1 : Pembentukan kelompok – kelompok yang heterogen sebanyak empat kelompok dan masing – masing kelompok beranggotakan empat siswa. 
Fase 2 : Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk mengerjakan kartu soal.
Fase 3 :  Setelah selesai, tiga siswa dari masing – masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing – masing bertamu ke tiga kelompok yang lain.
Fase 4 : Satu siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagi hasil kerja dan informasi kelompoknya kepada tamu mereka.
Fase 5 : Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan informasi yang mereka dapatkan dari kelompok lain.
Fase 6 : Guru memberi kesempatan kepada salah satu  kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Fase 7 : Siswa kembali ketempat duduknya masing – masing, selanjutnya guru memberikan quiz yang harus dikerjakan secara individu.
4.3. Kegiatan Akhir (15 menit)
a.   Guru memberikan penghargaan kepada kelompok.
b.  Dengan bimbingn guru, siswa diminta menyimpulkan hasil pembelajaran.
c.   Guru memberikan tugas di rumah berupa mengerjakan soal – soal yang berkaitan dengan persamaan linier tiga variabel yang ada di internet.
5.      Sumber Belajar
5.1. Buku paket / modul matematika SMA kelas X Semester 2
5.2. Buku referensi lain yang relevan dengan materi Sistem persamaan linier tiga variabel
5.4. Internet
6.      Penilaian
6.1. Jenis Tagihan      : Tes Individu
6.2. Teknik                : Quiz
6.3.Instrumen            : Uraian
























BAB III
PENUTUP

A.        SIMPULAN
         Berdasarkan uraian di atas, dapat kami simpulkan :
1)      Bali merupakan suatu objek wisata di Indonesia yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan , baik dari wisatawan lokal dan domestik.
2)      Dari perhitungan yang kami lakukan terhadap patung GWK diperoleh 26,66 m.
3)      Dari beberapa kegiatan di objek wisata yang dikunjungi di Bali selain untuk bersenang-senang juga bermanfaat untuk pembelajaran matematika yang antara lain menghitung tinggi suatu bangunan, menghitung luas daerah dan lain-lain.

B.         SARAN
Berdasarakan pada pembahasan diatas, Penulis memberikan beberapa Saran, yakni sebagai berikut:
·         Pada saat pelaksanaan Kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) hendaknya Alat dan Bahan nya dipersiapkan secara maksimal dan lengkap agar pada saat pengambilan data tidak terjadi kesalahan yang fatal
·         Mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II), hendaknya harus lebih bersungguh-sungguh dan tidak hanya menganggap Kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika 2 (KIPMATH II) sebagai Liburan dan Pikinik saja.
·         Mahasiswa harus selalu bekerjasama dalam tim agar mendapatkan hasil yang Optimal.




DAFTAR PUSTAKA

·         Wirodikromo,Sartono. 2004. Matematika Untuk SMA Kelas XI Semester I.  Jakarta: Erlangga.
·         fisik@net - http://www.fisikanet.lipi.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar